rizkifaiblogspot.com

Selasa, 12 Juni 2012

hakikat tujuan pendidikan



 I.PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk yang sangat penting, karena dilengkapi dengan pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan bagi pengemban tugas dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan Islam mengacu pada Al-Tarbiyah, Al-Ta’dib, Al-Ta’lim,ketiga istilah ini yang sering digunakan Al-Tarbiyah, meskipun kata ini memiliki arti tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestariannya. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa Allah adalah Rabbal ‘Alamin dan Rabbi tersebut nas artinya pendidik semesta alam serta pendidik bagi manusia dengan demikian menurut Al-Qur’an alam dan manusia mempunyai sifat tumbuh dan berkembang. Jadi mendidik dan pendidik pada hakikatnya adalah fungsi Tuhan dan mengapa dalam kenyataan pendidikan dan mendidik menjadi urusan manusia, dalam pandangan Filsafat Islam manusia adalah khalifah Allah di alam semesta ini, Khalifah berarti kuasa atau wakil Allah dimuka bumi. Pada hakikatnya pendidikan filsafat pendidikan Islam merupakan suatu proses yang berlangsung berkesinambungan maka tugas dan fungsi yang perlu di emban oleh pendidik Islam adalah pendidikan Islam seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat.
Tugas pendidikan Islam adalah membimbing peserta didik dari tahap ketahap kehidupanya sampai mencapai ketitik optimal. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, intelektual diri manusia yang rasional, perasaan dan indra. Dapat disimpulkan secara keseluruhan pendidikan dalam pendidikan filsafat Islam terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah baik secara pribadi, komunitas maupun seluruh umat manusia. Dalam Al-Qur’an banyak di temukan gambaran yang membicarakan tentang manusia secara filosofis dari penciptaannya. Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang di lengkapi dengan akal pikiran. Dalam hal ini Ibn Arrabi misalnya melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa,"Tak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada manusia yang memiliki daya hidup ,mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berpikir, dan memutuskan. Manusia adalah makhluk yang sangat penting, karena dilengkapi dengan penbawaan dan syarat-syarat yang di perlukan bagi mengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah di muka bumi. Kemunculan dan perkembangan tradisi keilmuan, pemikiran dan filsafat di dunia Islam tidak dapat di pisahkan dan kondisi lingkungan (kebudayaan dan peradaban) yang mengitarinya. Kemunculan dan perkembangan bukan sesuatu yang orisinal dan baru sama sekali tetapi merupakan formulasi baru yang merupakan perpaduan antara kebudayaan dan peradaban baru yang datang. Karena jauh sebelum wilayah-wilayah yang disebut dunia Islam di huni masyarakat muslim, telah tumbuh suatu masyarakat yang berkebudayaan dan berperadaban.









1. Pengertian Pendidikan Secara Umum

Allah telah mendidik dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan alam, tersirat pengertian yang menyatakan bahwa manusia agar tetap memelihara kesucian asma` (pelajaran yang di ajarkan) Tuhan pendidik yang maha tinggi. Tuhan telah menciptakan (alam dan manusia), kemudian menyempurnakan proses penciptaanya. Tuhan telah memberikan batasan (menetapkan aturan -aturan, takaran, ukuran dan sebagainya di alam) dan kemudian memberi pertunjuk terhadap proses penyempurnaan ciptaan tersebut. Jadi dalam pendidikan filsafat Islam, berarti mengembangkan potensi manusiawi dibawah pengaruh hukum-hukum Allah, baik Al-Quran maupun sunnahtullah, dan hal ini akan menghasilkan kebudayaan, yang terus menerus berkembang. Setiap generasi tua mewariskan kebudayaan pada generasi mudanya dan mengarahkannya agar kebudayaan tersebut berkembang. Dalam tujuan secara umum pendidikan Islam membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu mengerakan perkembangan manusia.


2. Pengertian Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam pendidikan Islam pada umumnya mengacu pada Al-Tarbiyah, Al-Ta'dib, Al-Ta'lim. Dari ketiga istilah tersebut yang populer di gunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah Al-Tarbiyah, sedangkan Al-Ta'lim dan Al-Ta'dib jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam. (Ahmad Syalabi, 1954;21-23) Istilah Al-Tarbiyah berasal dari kata Rab. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian atau ekstiensinnya. Proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang di berikan Allah sebagai "pendidik" seluruh ciptaan Nya, termasuk manusia. Pengertian pendidikan Islam yang dikandungkan dalam Al-Tarbiyah, terdiri dari empat unsur pendekatan, yaitu:

1. Memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh)
2. Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.
3. Mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan.
4. Melaksanakan pendidikan secara bertahap. (Abdurrahman An-Nahlawi, 1992:31)

Istilah Al-Ta'lim adalah telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata ini lebih bersifat universal di banding Al- Tarbiyah mupun Al-Ta'dib. Misalnya mengartikan Al-Ta`lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah dan annafs (pensucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima alhikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui. (Abdul Fattah, Jalal, 1998:29-30)






Istilah Al-Ta'dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsurangsur di tanamkan pada diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini, pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing kearah pengenalan dan pengakuan kepada Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya. (Muhammad Naquib Al-Attas 1994:63-64) Dalam kata Al-Tarbiyah yang memiliki arti pengasuh, pemeliharaan, dan kasih sayang tidak hanya digunakan untuk manusia, akan tetapi juga digunakan untuk melatih dan memelihara binatang atau makhluk Allah lainnya. Di antara batasan yang sangat variatif tersebut adalah;

1. Mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. (Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Syaibany, 1979:32-99)

2. Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia.

3. Mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidikan terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil). (Ahmad D. Mariamba, 1989:19)

4. Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.

3. Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-Qur’an
Dalam Al-Qur`an di tegaskan bahwa Allah adalah Rabbal'alamin, artinya adalah pendidik semesta alam dan juga pendidikan bagi manusia. Pengertian tersebut diambil. karena kata Rabbal dalam arti Tuhan dan Rabb dalam arti pendidik berasal dari asal kata yang sama. Dengan demikian menurut Al-Qur’an tersebut alam dan manusia mempunyai sifat tumbuh dan berkembang dan yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan tersebut tidak lain kecuali Allah juga. Jadi mendidik dan pendidik pada hakikatmya adalah fungsi Tuhan dan mendidik adalah mengatur serta, mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan alam dan manusia sekaligus. Kenapa kenyataan bahwa pendidik dan mendidik itu menjadi urusan manusia. Dalam pandangan filsafat Islam, sebagai mana ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa pada hakikatnya manusia adalah "Khalifah Allah di alam semesta ini "Khalifah berarti kuasa atau wakil. (Zuhairini, 2004:12)










II.PEMBAHASAN

a. Tugas dan Dasar Pendidikan Islam
Pada hakikatnya, pendidikan Islam adalah suatu proses yang berlangsung secara berkesinambungan Berdasarkan hal ini maka tugas dan fungsi yang perlu diemban oleh pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhny dan berlangsung sepajang hayat. Konsep ini bermakna bahwa tugas dan fungsi pendidikan memiliki sasaran pada peserta didik yang senantiasa tumbuh dan berkembang secara dinamis mulai dari kandungan sampai akhir hayatnya. Tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsi pendidikan berjalan dengan lancar. Adapun sebagai interaksi antara potensi (memberi dan mengadopsi) antara manusia dan lingkungannya. Dengan proses ini, peserta didik manusia akan menciptakan dan mengembangkan keterampilan yang di perlukan untuk mengubah dan memperbaiki kondisi-kondisi kemanusiaan dan lingkungannya.


b. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam kontek ini, dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat menghantarkan peserta didik ke arah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu, dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah (hadits). Dalam pendidikan Islam, sunnah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu: Menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat di dalamnya. Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat,perlakuannya terhadap anak-anak, dan pendidikan keimanan yang pernah dilakukannya (Abdurrahman An-Nahlawi, 1992:47). Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Tujuan dan tugas manusia di muka bumi. baik secara vertikal maupun horizontal. Sifat-sifat manusia tututan masyarakat dan dinamika peradaban

2. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam (M. Arifin, 1987:120) Adapun tujuan pendidikan Islam adalah mengembangkan fitrah peserta didik, baik ruh, fisik, kemauan, dan akalnya secara dinamis, sehingga akan terbentuk pribadi yang utuh dan mendukung bagi pelaksanaan fungsinya sebagai khalifah fi al-ardh.









Pendekatan tujuan ini merupakan memiliki makna, bahwa upaya pendidikan Islam adalah pembinaan pribadi muslim sejati yang mengabdi dan merealisasikan kehendak Tuhan sesuai dengan syariat Islam. serta mengisi tugas kehidupannya di dunia dan menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan utama pendidikannya. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional ; perasaan dan indera. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik ; aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif ; dan mendorong semua aspek tersebut berkembang kearah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.


c. Pengertian pendekatan filosofis
Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak.
Pendekatan filosofis untuk menjelaskan suatu masalah dapat diterapkan dalam aspek-aspek kehidupan manusia, termasuk dalarn pendidikan. Filsafat tidak hanya melahirkan pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi. John Dewey (1964) berpendapat bahwa filsafat merupakan teori umum tentang pendidikan. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban filosofis pula.







Ø  TUJUAN PENDIDIKAN
Secara bahasa tujuan adalah arah, haluan, jurusan, maksud . Dalam skala yang lebih besar pendidikan diatur oleh Pemerintah baik sistem maupun managemennya. Di Indonesia berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk brkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Paulo Freire, tokoh pendidikan Amerika Latin mengatakan bahwa tujuan akhir dari preses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi). Tidak jauh berbeda dengan pandangan di atas M.Arifin berpendapat bahwa proses pendidikan pada akhirnya berlangsung pada titik kemampuan berkembangnya tiga hal, yaitu mencerdaskan otak yang ada dalam kepala (head), kedua, mendidik akhlak atau moralitas yang berkembang dalam hati (heart) dan ketiga, adalah mendidik kecakapan/ketrampilan yang pada prinsipnya terletak pada kemampuan tangan (hand). Berangkat dari arti pentingnya pendidikan ini, Karnadi Hasan memandang bahwa pendidikan bagi masyarakat dipandang sebagai “human investment” yang berarti secara historis dan filosofis, pendidikan telah ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam proses humanisasi dan pemberdayaan jati diri bangsa.
Pendidikan dimanapun dan kapanpun pada esensinya adalah sama. Hal ini di ungkapakan oleh Robert Maynard Hutchins yaitu bahwa : Satu tujuan pendidikan adalah mengeluarkan unsur- unsur kemanusiaan yang sama dalam diri kita. Unsur unsur itu pada dasarnya tidak berbeda meski tempat dan waktunya berlainan. Jadi, anggapan bahwa manusia harus dididik untuk hidup di tempat atau di zaman tertentu, menyesuaikan manusia dengan lingkungan tertentu, adalah gagasan asing dan tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan sejati.
Pendidikan mengisyaratkan pengajaran. Pengajaran mengisyaratkan pengetahuan. Pengetahuan adalah kebenaran. Kebenaran, dimanapun, kapanpun, sama saja .
Pendidikan dapat dikatakan berhasil jika sudah mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan ditempuh dengan tindakan-tindakan yang jelas pula.. Bila kita kembali kepada hakekat pendidikan maka pendidikan pada esensinya juga bertujuan untuk membantu manusia menemukan hakekat kemanusiaannya. Proses humanisasi ini adalah –meminjam istilah Freire- pembebasan. Pembebasan manusia dari belenggu struktur sosial, cara pikir yang salah, doktrin tertentu dan sebagainya





Ø  TUJUAN PENDIDIKAN MENURUT PARA FILUSUF
Para filusuf mengemukakan pandangan berbeda mengenai tujuan pendidikan, antara lain:
  1. Plato (427-347 SM)
Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan.
2.      Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat dan total, meliputi aspek jasmaniyah, emosi, dan intelek. Ia juga mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi adalah “kehidupan berpikir”.
3.      Thomas Aquinas
Thomas berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun kemampuan – kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap –tiap individu. Seorang guru bertugas untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak didik agar menjadi aktif dan nyata.

4.      John Dewey
Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal.








A. PENDEKATAN  FILOSOFIS TERHADAP HAKEKAT TUJUAN PENDIDIKAN
Pendekatan filosofis yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.
Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model:
  1. Model filsafat spekulatif
Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman
2.      Model filsafat preskriptif
Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan buruk, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat.
3.      Model filsafat analitik
Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994).
Pendekatan filosofis pada dasarnya bertujuan untuk menjelaskan inti,dan  hakikat, mengenai sesuatu yang berada di balik suatu objek tertentu.



a.      Inti Tujuan Pendidikan
Inti dari Tujuan pendidikan adalah Keimanan kepada Tuhan YME.
Ibarat pohon besar ranting-ranting adalah semua cabang ilmu pengetahuan, dan badan pohon di ibaratkan sebagai filsafat merupakan induk dari cabang ilmu pengetahuan. Serta akar sebagai inti/dasar induk cabang ilmu pengetahuan yaitu iman. Jadi kesimpulannya bahwa apapun ilmu yang kita peroleh dasarnya adalah iman (tauhid). Dasar pancasila kita saja dalam sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” merujuk pada keimanan, merupakan pembungkus dari empat sila yang lain.
b.      Hakekat Tujuan Pendidikan
Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of culture and transfer of religius yang diarahkan pada upaya untuk memanusiakan manusia. Hakikat proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah perilaku individu  atau  kelompok  agar  memiliki  nilai-nilai  yang disepakati berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.
Menurut Freire hakekat tujuan pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi oleh metode dan teknik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana tekhnologi lainnya yang ditawarkan sesuatu kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang apapun. Namun sebagai sebuah praksis sosial, pendidikan berupaya memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindasan yang mencekik mereka . Hal senada juga di ungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan seharusnya memerdekakan,. YB. Mangunwijaya beranggapan bahwa pendidikan haruslah berbasis realitas sosial.
Kata Latin untuk mendidik adalah educare yang berarti menarik keluar dari, dan ini boleh diartikan usaha pemuliaan. Kata educare memberi arah kepada pemuliaan manusia, atau pembentukan manusia. Dalam pengertian sederhana secara leksikal education (pendidikan) adalah suatu proses pembebasan untuk membuat manusia lebih manusiawi. Manusiawi berarti manusia yang lebih mulia, yang keluar dari ketertindasan dan kebodohan.






B.     Pengertian Filsafat Pendidikan dan Perspektif Islam
.   
1. Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan pada umumnya dan filsafat Islam pada khususnya adalah bagian dari ilmu filsafat, maka dalam mempelajari filsafat pendidikan perlu memahami terlebih dahulu tentang pengertian filsafat terutama dengan hubungannya dengan masalah pendidikan khususnya pendidikan Islam. Kata filsafat atau falsafat, berasal dari bahasa Yunani. Kalimat ini berasal dari kata philoshophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka dan kata sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan. Hasan Shadily mengatakan bahwa filsafat menurut arti katanya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai akan kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana.
Berbagai pengertian (definisi) tentang Filsafat Pendidikan yang telah dikemukakan oleh para ahli, Al-Syaibany mengartikan bahwa filsafat pendidikan ialah aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya, bahwa filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk mencapainya, maka filsafat pendidikan dan pengalaman kemanusian merupakan faktor yang integral atau satu kesatuan. Sementara itu, filsafat juga didefinisikan sebagai pelaksana pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan, falsafah tersebut menggambarkan satu aspek dari aspek-aspek pelaksana falsafah umum dan menitik beratkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan pendidikan secara praktis. Barnadib mempunyai versi pengertian atas filsafat pendidikan, yakni ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Karenanya, dengan bersifat filosofis, bermakna bahwa filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisa filosofis terhadap bidang pendidikan.




2. Perspektif Islam
Pegertian filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf. Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya.

B. Obyek Kajian Filsafat Pendidikan

1.  Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam                                                            
Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.



Dalam rangka menggali, menyusun, dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan tentang pendidikan terutama pendidikan Islam, maka perlu diikuti pola dan pemikiran kefilsafatan pada umumnya. Adapun pola dan sistem pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah:
a) Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti cara berfikirnya bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi. Hasil pemikirannya tersusun secara sistematis artinya satu bagian dengan bagian lainnya saling berhubungan.
b) Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal artinya menyangkut persoalan yang mendasar sampai keakar-akarnya.
c) Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini, termasuk kehidupan umat manusia, baik pada masa sekarang maupun masa mendatang.
d) Meskipun pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, artinya pemikiran-pemikiran yang tidak didasari dengan pembuktian-pembuktian empiris atau eksperimental (seperti dalam ilmu alam), akan tetapi mengandung nilai-nilai obyektif. Dimaksud dengan nilai obyektif oleh permasalahannya adalah suatu realitas (kenyataan) yang ada pada obyek yang dipikirkannya.
 Pola dan sistem berpikir filosofis demikian dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut:
a)      Cosmologi yaitu suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan, serta proses kejadian kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.









b)       Ontologi yaitu suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan kearah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu satu zat (monisme) ataukah dua zat (dualisme) atau banyak zat (pluralisme). Dan apakah kekuatan penciptaan alam semesta ini bersifat kebendaan, maka paham ini disebut materialisme. Secara makro (umum) apa yang menjadi obyek pemikiran filsafat, yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan sekitarnya adalah juga obyek pemikiran filsafat pendidikan.
Tetapi secara mikro (khusus) yang menjadi obyek filsafat pendidikan meliputi:
a.       Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature of Education).
b.      Merumuskan sifat hakikat manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan (The Nature Of Man).
c.      Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan.
d.      Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan.
e.      Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan).
f.      Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.
Dengan demikian dari uraian tersebut diproleh suatu kesimpulan bahwa yang menjadi obyek filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.











2. Analisis Filsafat tentang Masalah Pendidikan
Masalah pendidikan adalah merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia, bahkan pada hakikatnya keduanya adalah proses yang satu. Dengan pengertian pendidikan yang luas, berarti bahwa masalah kependidikan pun mempunyai ruang lingkup yang luas pula, yang menyangkut seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Sebagai contoh, berikut ini akan dikemukakan beberapa masalah kependidikan yang memerlukan anlisa filsafat dalam memahami dan memecahkannya, antara lain:

1)       Masalah pendidikan pertama yang mendasar adalah tentang apakah hakikat pendidikan?
2)       Apakah sebenarnya tujuan pendidikan itu?

Problema-problema tersebut merupakan sebagian dari contoh-contoh problematika pendidikan yang dalam pemecahannya memerlukan usaha-usaha pemikiran yang mendalam dan sistematis atau analisa filsafat. Dalam memecahkan masalah-masalah tersebut analisa filsafat menggunakan berbagai macam pendekatan yang sesuai dengan permasalahannya. Diantara pendekatan yang digunakan antara lain:
a) Pendekatan secara spekulatif
b) Pendekatan normative
c) Pendekatan analisa konsep
d) Analisa ilmiah

Selanjutnya Harry Scofield menekankan bahwa dalam analisa filsafat terhadap masalah-masalah pendidikan digunakan dua macam pendekatan yaitu pendekatan filsafat historis dan pendekatan dengan menggunakan filsafat kritis.





Dengan pendekatan filsafat historis yaitu dengan cara mengadakan deteksi dari pertanyaan-pertanyaan filosofis yang diajukan, mana-mana yang telah mendapat jawaban dari para ahli filsafat sepanjang sejarah. Dalam sejarah filsafat telah berkembang dalam bentuk sistematika, jenis dan aliran-aliran filsafat tertentu. Adapun cara pendekatan filsafat kritis, dimaksudkan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan diusahakan jawabannya secara filosofis pula dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan filosofis. Selanjutnya Schofield mengemukakan ada dua cara analisa pokok dalam pendekatan filsafat kritis yaitu analisa bahasa (linguistik) dan analisa konsep. Analisa bahasa adalah usaha untuk mengadakan interpretasi yang menyangkut pendapat-pendapat mengenai makna yang dimilikinya. Sedangkan analisa konsep adalah suatu analisa mengenai istilah-istilah (kata-kata) yang mewakili gagasan.

C. Fungsi dan Tugas Filsafat Pendidikan

1. Fungsi Filsafat Pendidikan
Sebagai ilmu, pendidikan Islam bertugas untuk memberikan penganalisaan secara mendalam dan terinci tentang problema-problema kependidikan Islam sampai kepada penyelesaiannya. Pendidikan Islam sebagai ilmu, tidak melandasi tugasnya pada teori-teori saja, akan tetapi memperhatikan juga fakta-fakta empiris atau praktis yang berlangsung dalam masyarakat sebagai bahan analisa. Oleh sebab itu, masalah pendidikan akan dapat diselasaikan bilamana didasarkan keterkaitan hubungan antara teori dan praktek, karena pendidikan akan mampu berkembang bilamana benar-benar terlibat dalam dinamika kehidupan masyarakat. Antara pendidikan dan masyarakat selalu terjadi interaksi (saling mempengaruhi) atau saling mengembangkan sehingga satu sama lain dapat mendorong perkembangan untuk memperkokoh posisi dan fungsi serta idealisasi kehidupannya. Ia memerlukan landasan ideal dan rasional yang memberikan pandangan mendasar, menyeluruh dan sistematis tentang hakikat yang ada dibalik masalah





pendidikan yang dihadapi. Dengan demikian filsafat pendidikan menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan Islam. tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses kependidikan.
Tugas filsafat adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis (bahkan spekulatif) secara mendalam dan memdasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis, dan radikal (sampai keakar-akarnya), tentang problema hidup dan kehidupan manusia. Produk pemikirannya merupakan pandangan dasar yang berintikan kepada “trichotomi” (tiga kekuatan rohani pokok) yang berkembang dalam pusat kemanusiaan manusia (natropologi centra) yang meliputi:
a.        Induvidualisme
b.       Sosialitas
c.       Moralitas
Ketiga kemampuan tersebut berkembang dalam pola hubungan tiga arah yang kita namakan “trilogi hubungan” yaitu:
a)       Hubungan dengan Tuhan, karena ia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
b)      Hubungan dengan masyarakat karena ia sebagai masyarakat.
c)      Hubungan dengan alam sekitar karena ia makhluk Allah yang harus mengelola, mengatur, memanfaatkan kekayaan alam sekitar yang terdapat diatas, di bawah dan di dalam perut bumi ini.

2. Tugas filsafat “menganalisis Hubungan Filsafat dengan Pendidikan Islam”
Dalam berbagai bidang ilmu sering kita dengar istilah vertikal dan horisontal. Istilah ini juga akan terdengar pada cabang filsafat bahkan filsafat pendidikan. Antara filsafat dan pendidikan terdapat hubungan horisontal, meluas kesamping yaitu hubungan antara cabang disiplin ilmu yang satu dengan yang lain yang berbeda-beda, sehingga merupakan synthesa yang merupakan terapan ilmu pada bidang kehidupan yaitu ilmu filsafat pada penyesuaian problema-problema pendidikan dan pengajaran. Filsafat pendidikan dengan demikian merupakan pola-pola pemikiran atau pendekatan filosofis terhadap permasalahan bidang pendidikan dan pengajaran.





Adapun filsafat pendidikan menunjukkan hubungan vertikal, naik ke atas atau turun ke bawah dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain, seperti pengantar pendidikan, sejarah pendidikan, teori pendidikan, perbandingan pendidikan dan puncaknya filsafat pendidikan. Hubungan vertikal antara disiplin ilmu tertentu adalah hubungan tingkat penguasaan atau keahlian dan pendalaman atas rumpun ilmu pengetahuan yang sejenis. Maka dari itu, filsafat pendidikan sebagai salah satu bukan satu-satunya ilmu terapan adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada penerapan pendekatan filosofis pada bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru pada khususnya.  Jhon S. Brubachen mengatakan hubungan antara filsafat dan pendidikan sangat erat sekali antara yang satu dengan yang lainnya. Kuatnya hubungan tersebut disebabkan karena kedua disiplin tersebut menghadapi problema-problema filsafat secara bersama-sama.

D. Pemecahan permasalahan

 Apakah hakikat  dan tujuan pendidikan islam?
Diatas telah disampaikan bahwa permasalahan mendasar tentang pendidikan adalah apa hakikat tentang pendidikan itu sendiri, kenapa demikian ?
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup dalam hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah. Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah Subhanaha watta’alla dengan suatu bentuk akal pada diri manusia yang tidak dimiliki mahluk Allah yang lain dalam kehidupannya, bahwa untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu pola pendidikan melalui suatu proses pembelajaran. Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa






pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut William F (tanpa tahun) Pendidikan harus dilihat di dalam cakupan pengertian yang luas. Pendidikan juga bukan merupakan suatu proses yang netral sehingga terbebas dari nilai-nilai dan Ideologi.
Kosasih Djahiri (1980 : 3) mengatakan bahwa Pendidikan adalah merupakan upaya yang terorganisir, berencana dan berlangsung kontinyu (terus menerus sepanjang hayat) kearah membina manusia/anak didik menjadi insan paripurna, dewasa dan berbudaya (civilized).Dari pengertian tersebut bahwa pendidikan merupakan upaya yang terorganisir memiliki makna bahwa pendidikan tersebut dilakukan oleh usaha sadar manusia dengan dasar dan tujuan yang jelas, ada tahapannya dan ada komitmen bersama didalam proses pendidikan itu. Berencana mengandung arti bahwa pendidikan itu direncanakan sebelumnya, dengan suatu proses perhitungan yang matang dan berbagai sistem pendukung yang disiapkan. Berlangsung kontinyu artinya pendidikan itu terus menerus sepanjang hayat, selama manusia hidup proses pendidikan itu akan tetap dibutuhkan, kecuali apabila manusia sudah mati, tidak memerlukan lagi suatu proses pendidikan. Selanjutnya diuraikan bahwa dalam upaya membina tadi digunakan asas/pendekatan manusiawi/humanistik serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik serta utuh dan bulat (aspek fisik–non fisik : emosi–intelektual ; kognitif–afektif psikomotor), sedangkan pendekatan humanistik adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia yang potensial, (mempunyai kemampuan kelebihan – kekurangannya dll), diperlukan dengan penuh kasih sayang – hangat – kekeluargaan – terbuka – objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan/paksaan apapun juga. Melalui penerapan






pendekatan humanistik maka pendidikan ini benar-benar akan merupakan upaya bantuan bagi anak untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta dunia kehidupan dari segala liku dan seginya. Menurut Ki Hadjar Dewantara terdapat lima asas dalam pendidikan yaitu :
  1. Asas kemerdekaan; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat.
  2. Asas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya.
  3. Asas kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri).
  4. Asas kebangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain.
  5. Asas kemanusiaan; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan.
Menurut Tilaar (2000 : 16) ada tiga hal yang perlu di kaji kembali dalam pendidikan. Pertama, pendidikan tidak dapat dibatasi hanya sebagai schooling belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan terasing dari kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung jawabnya dalam pendidikan. Oleh sebab itu, rumusan mengenai pendidikan dan kurikulumnya yang hanya membedakan antara pendidikan formal dan non formal perlu disempurnakan lagi dengan menempatkan pendidikan informal yang justru akan semakin memegang peranan penting didalam pembentukan tingkah laku manusia dalam





kehidupan global yang terbuka. Kedua, pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik peserta didik. Pengembangan seluruh spektrum intelegensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniyahnya perlu diberikan kesempatan didalam program kurikulum yang luas dan fleksibel, baik didalam pendidikan formal, non formal dan informal. Ketiga, pendidikan ternyata bukan hanya membuat manusia pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia yang berbudaya dan menyadari hakikat tujuan penciptaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sindhunata (2000 : 14) bahwa tujuan pendidikan bukan hanya manusia yang terpelajar tetapi manusia yang berbudaya (educated and Civized human being). Berdasarkan teori belajar humanistic pendidikan adalah Belajar untuk memenusiakan manusia, memahami perilaku belajar dari sudut pandang perilakunya, bukan pengamatnya. Teori ini bertujuan menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Guru memberi motivasi kesadaran mengenai kesadaran akan pengalaman belajar dalam kehidupan siswa.guru menfalititasi pengalaman belajar siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran, sedangkan siswa sebagai pelaku utama yang memaknai poses pengalaman belajar, memahami potensi dirinya, mengembangkan potensi dirinya secara positif. Namun apa yang terjadi dilapangan? Masih banyak kekerasan dalam pendidikan terjadi. Baru – baru ini seorang guru / pendidik melakukan tindak kekerasan dengan member hukuman yang menurut etika moral melampaui batas. Dengan cara menjewer  sebanyak 200 kali karena tidak dapat menghafal bacaan Alqur’an. Perlakuan ini hanya akan membuat mental serta motivasi belajarnya menurun. Jika pendidikan adalah











memanusiakan manusia maka kita harus merumuskan proses pendidikan sesuai dengan teori humanistic dengan cara:
·         merumuskan adanya tujuan pembelajaran yang jelas
·         parsitipasi aktif dari siswa melalui kontrak belajar yang jelas,jujur, dan positif. 
·         siswa bebas mengemukakan pendapat,memilih pilihannya sendiri,melakukan apa yang diinginkannya dan menanggung rsiko dari perilaku yang ditunjukan.
·         siswa didorong untuk peka,mandiri,berpikir kritis,belajar atasinisiatif sendiri. 
Alasan memilih teori humanistik dan teori konstruktivistik karena dengan menggunakan teori ini membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap dan siswa dapat secara aktif mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri,melakukan apa yang diinginkannya. Ada 3 (tiga) komponen dasar yang harus dibahas dalam teori pendidikan Islam dan pada gilirannya dapat dibuktikan dalam praktek pendidikan, yaitu:
1. Tujuan Pendidikan Islam harus dirumuskan dan  ditetapkan secara jelas dan sama bagi seluruh  umat manusia. QS. 6: 162.
2. Metode pendidikan Islam yang diciptakan harus  berfungsi secara efektif dalam proses pencapaian tujuan pendidikan Islam.
3. Irama gerak yang harmonis antara metode dan  tujuan pendidikan Islam yang tertuang dalam  ide dan nilai yang berupa content pendidikan





Hakikat Pendidikan

Untuk memahami lebih jauh tentang haikat pendidikan maka kita dapat meninjau dari beberapadefinisi pendidikan itu sendiri. Dalam bahasa Yunani pendidikan adalah pedagogik, yaitu : ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yakni  membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.








Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Seiring dengan beberapa definisi diatas, beberapa tokoh pendidikan dunia telah memberikan pemikiran tentang hakikat pendidikan. Imam Al ghazali mengatakan bahwa hakikat pendidikan adalah media/wadah untuk mendekatkan diri pada-Nya demi meraih keselamatan dunia dan akhirat. Nouwen, Paulo Freire (tokoh pendidik Amerika Latin) memandang pendidikan sebagai suatu aktivitas yang harus menumbuhkan rasa cinta terhadap dunia dan sesama, kerendahan hati, keyakinan, pengharapan dan pemikiran kritis di dalam hati setiap orang yang terlibat di dalamnya. Atau dengan kata lain bahwa pendidikan mestilah menjadi proses untuk memanusiakan manusia. Sehingga dari beberapa pemikiran diatas, kita akan sepakat bahwa hakikat pendidikan adalah media untuk memanusiakan manusia. Dimana proses yang dimakasud adalah bagaimana menggiring manusia dalam proses pencarian ilmu pengetahuan untuk bergerak dari ketidaktahuan menjadi paham dan yakin akan sesuatu yang ditelaah/dipelajarinya, mengembangakan potensi lahiriah dan spiritual manusia sehingga yang tercipta dari proses pendidikan tersebut adalah manusia yang mampu mengembangkan potensi diri menjadi insan yang cerdas intelegensi dan spiritualnya yang mampu menghasilkan (Produktif) bukan hanya mampu memakai/menghabiskan (Konsumtif), membimbing akhlak manusia menjadi insan yang mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuannnya untuk kemaslahatan/keselamatan pribadi dan ummat lainnya.


Tujuan Pendidikan   Nasional

Terkhusus di negara Indonesia, negara kita memiliki kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memberikan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai bentuk pengejawantahan nilai UUD 1945 yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 paragraf ke-4 ….Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa…

















Oleh karena itu, negara kita memiliki perangkat hukum sistem pendidikan nasional untuk merealisasikan/melaksanakan kewajiban negara sebagaimana termaktub dalam UUD 1945. dimana perangkat hukum yang dimaksud adalah Undang-Undang Sisitem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS NO.20 Tahun 2003).


Dalam UU SISDIKNAS NO.20 Tahun 2003 termaktub dengan jelas, fungsi dan tujuan pendidikan nasional pada Bab II, pasal 3 yang berbunyi pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manusia menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


Benarkah tujuan luhur pendidikan nasional ini dapat terwujud?
 

Hal yang sangat membingungngkan tentunya ketika membandingkan antara upaya perealisasian tujuan pendidikan nasional dengan realitas proses pendidikan dinegara kita hari ini. Karena ternyata proses pendidikan hari ini justru mereduksi (mengikis) tujuan pendidikan itu sendiri.

Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Ada beberapa point penting yang
 menyebabkan reduksi tujuan tersebut.
 

A. Terdapat ambiguitas (pemaknaan ganda) dan nilai kontradiktif (berlawanan arah) dalam tubuh UU SISDIKNAS No.20 Tahun 2003, yang mengakibatkan ketidakjelasan arah pelaksanaan pendidikan. Ambiguitas makna ini dapat ditinjau dari adanya pasal yang mengatur tentang upaya perealisasian tujuan pendikan dengan memberikan pelayanan pendidikan murah kepada rakyat, sementara disisi lain juga terdapat pasal yang melegalkan upaya liberalisasi pendikan oleh Negara yang tentunya liberalisasi pendidikan tersebut meniscayakan ekslusifitas dan mahalnya biaya pendidikan.








Bagaimana bisa kita akan mencapai satu tujuan, sedangkan system yang dipakai memiliki 2 arah yang saling kontradiktif/berlawanan arah?
 

Hal ini dibuktikan dengan adanya kontradiksi beberapa pasal dalam UU SISDIKNAS sebagai contoh; adanya pasal yang lebih mempertegas kewajiban Negara untuk memberikan sumbangsih 20% dana penyelenggaraan pendidikan dari APBN dan APBD diluar dari biaya gaji tenaga pengajar, honorer, pegawai dan biaya pendidikan kedinasan, (Bab XIII, Pendanaan Pendidikan, Bagian keempat tentang Pengalokasian dana pendidikan, pasal 49 ayat 1, UU SISDIKNAS No.20 Tahun 2003). Pasal ini tentunya dianggap sebagai kekuatan positif dalam mewujudkan pelayanan pendidikan murah bagi seluruh rakyat sesuai dengan arah pendidikan berbasis kerakyatan.

Namun yang membuat kita akan bingung karena ternyata disisi lain terdapat pasal-pasal yang akan melegalkan terjadinya Liberalisasi dunia pendidikan (upaya pelepasan tangung jawab Negara untuk memberikan sumbangasih/subsidi pendidikan dengan dalih memberikan kewenangan/kemandirian kepada satuan pendidikan formal (mulai pendidikan tingkat dasar sampai pendidikan tinggi/perguruan tinggi) yang dibentuk oleh pemerintah (negeri) dan masyarakat (swasta) untuk mencari sumber pendanaan sendiri; bertumpu pada pihak swasta, Negara asing, donatur, perusahaan, dan dana dari masyarakat langsung. Maka jadilah dunia pendidikan layaknya industri/pabrik dimana pemilik dan penentu kebijakan tergantung pada siapa yang memiliki sumbangsih/saham terbesar dalam industri tersebut. Dan kita dengan jelas bisa membayangkan, apa yang akan terjadi ketika penyelengaaran pendidikan mesti bertumpu pada pembiayaan yang ditanggung oleh masyarakat. Jadilah pendidikan kita menjadi pendidikan yang sangat mahal. Dan berikutntya pendidikan dinegara kita akan bersifat ekslusif karena semua masyarakat tentunya tak akan memiliki kemampuan yang sama dalam memenuhi biaya penyelenggaraan pendidikan suatu institusi. Maka, jangan heran ketika di Indonesia kita akan sangat sering mendengar; kalau mau sekolah berkualitas bagus, yah mesti mahal…!!!, Orang miskin dilarang sekolah! Kalau kondisi seperti ini, maka jadilah pendidikan kita layaknya barang dagangan, semakin mahal barangnya, semakin bagus kualitasnya, meski tidak semua yang mahal itu akan bagus kualitasnya dan sesuatu yang bagus kualitasnya tidak mesti mahal harganya.

Gambaran diatas merupakan lukisan garis besar makna UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003, Bab XIV bagian kedua tentang Badan Hukum Pendidikan, Pasal 53 ayat 1,2,3, dan 4. Dalam ayat 1 termaktub dengan jelas “Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan”.











Jika kita mengkaji lebih dalam, Badan Hukum Pendidikan tentunya akan menjadi perangkat hukum yang akan melegalkan terjadinya liberalisasi pendidikan dinegara kita.


B. Tidak jelasnya perangkat operasional/petunjuk pelaksanaan pendidikan secara menyeluruh diseluruh tingkatan satuan pendidikan formal dari tingkatan dasar sampai pendidikan tinggi. Sebut saja contoh pada Peraturan Pemerintah No.60 (PP No.60) yang masih terdapat banyak kerancuan didalamya. Terlebih lagi, ketidakjelasan system kurikulum pendidikan dinegara kita yang mengakibatkan pengkaburan arah pendidikan dan kerancuan pola pengajaran di seluruh tingkatan pendidikan. Sebagai buktinya, kita dapat meninjau pasca beralihnya kurikulum CBSA berganti ke kurikulum 2004 kemudian berganti dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang melalui fase percobaan 2 tahun tanpa penetapan sah secara hukum secara tiba-tiba berganti dengan kurikulum Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sampai hari ini belum jelas arahnya akan kemana. Kerancuan yang paling nyata terjadi dari system kurikulum kita hari ini adalah tidak adanya nilai standarisasi keberhasilan yang jelas pada pelaksanaan tiap system kurikulum. Maka tak heran ketika Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang mesti secara tiba-tiba berganti setelah masa percobaan 2 tahun dan belum ditetapkan secara hukum sedangkan belum diketahui apakah kurikulum ini telah mencapai titik keberhasilan ataukah tidak.


Noda Hitam Dalam Dunia
Pendidikan Kita


Berbagai masalah memang tak nampak pada permukaan dunia pendidikan kita. Namun ketika kita mengkaji lebih jauh maka masalah yang sebenarnya akan terlihat dan tak sesederhana apa yang telah kita lewati hari ini. Kita akan mencoba melihat beberapa persoalan yang mungkin tanpa kita sadari kita sendiri telah melakukan, membiarkan bahkan menjadi korban kesalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita.


Masalah yang pertama adalah proses pendidikan kita hari ini berproses layaknya “pabrik” yang hanya akan menghasilkan “barang-barang siap pakai”. Barang siap pakai yang dimaksud adalah manusia yang dihasilkan untuk bekerja layaknya robot yang siap dipakai untuk kebutuhan persaingan industri dan teknologi. Hal ini tentunya sejalan dengan konsep pendidikan kapitalisme Adam Smith yang mencoba mereduksi konsep akademia Plato. Plato telah membentuk konsep akademia sebagai tempat pendidikan untuk pencerdasan manusia sehingga













manusia akan lebih produktif dalam hal pemikiran dan berkarya. Namun oleh Adam Smith, konsep academia itu direduksi menjadi konsep “Almamater/universitas” untuk menjadi Mega-pabrik yang menghasilkan produk siap pakai untuk bekerja pada pemodal dengan melihat peluang pasar global yang sangat besar. Jadi jangan terlalu bangga menjadi bagian almamater/unversitas, karena bias jadi anda adalah produk kapitalisme yang di produksi oleh universitas anda sendiri.


Masalah yang kedua adalah kultur pendidikan formal dinegara kita diarahkan pada perwujudan pola hubungan subjek dan objek (pelaku dan sasaran). Dan tentunya dalam pola hubungan ini guru/dosen/pengajar akan diposisikan sebagai Subjek (Pelaku) dan Siswa/Mahasiswa akan diposisikan sebagai (objek). Sehinggga hubungan yang terjadi adalah hubungan antara orang yang dianggap paling tahu (guru) dengan orang yang dianggap tidak tahu apa-apa (siswa). Atau dengan kata lain ini adalah system pendidikan top-down, kalau menurut istilah Paulo Freire ini adalah Gaya Bank. Dimana otak murid dianggap sebagai safe deposit bank (tempat menyimpan). Sisitem pendidikan ini tentunya sangatlah tidak membebaskan karena murid akan diperlakukan layaknya orang yang tak tahu apa-apa dan guru akan berposisi sebagai pengajar yang siap mengisi otak mereka dengan pola instruktif guru kepada murid untuk menghafal secara mekanistik apa-apa yang dipelajarinya. Proses ini lebih lanjut dapat dikatakan sebagai proses penyimpanan ilmu pengetahuan guru kedalam otak murid dan tentu saja sewaktu-waktu dapat diambil begitu saja. Murid hanya berfungsi sebagai penampung apa yang disampaikan dan diinstruksikan oleh guru. Maka jangan heran ketika dinegara kita justru lebih banyak lahir para penciplak-penciplak handal yang tak mampu berkreasi sendiri untuk menciptakan hal-hal yang baru.

Masalah yang ketiga adalah transformasi dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan kita lebih mengutamakan pada transfer ilmu pengetahuan asing yang kemudian ditelan mentah-mentah tanpa adanya filterisasi tentang kesejatian budaya, identitas dan ilmu pengetahuan dinegara kita sendiri. Kita lebih mengutamakan sah atau tidaknya suatau ilmu pengetahuan ketika mengambil referensi yang lebih berbau Barat tanpa ada proses penerjemahan dan pengkajian lebih jauh tentang muatan ideology yang terkandung dalam transformasi ilmu pengetahuan tersebut. Dan tanpa kita sadari ternyata bias saja kita telah menelan mentah-mentah rancun kapitalisme yang dimasukkan melalui ilmu pengetahuan yang kita pelajari. Maka jangan heran ketika Negara kita hari ini telah melupakan kesejatian budaya dan identitas bangasanya karena yang terjadi adalah bangsa kita sendiri lebih menyukai produk dan identitas yang berbau barat. Jadilah Negara kita sebagian besar “kebarat-baratan” dan sebagian lagi “ketimur-timuran” dan lebih parah lagi ada yang tidak jelas “kebarat-baratan” atau “ketimur-timuran”. Sungguh membingungkan tentunya. Pertnayannya, dimana lagi kesejatian negeri ini?






Bukan itu saja, ternyta dari proses pendidikan seperti ini justru telah menciptakan manusia yang tak lagi kritis dan bersifat apatis melihat segala permaslahan. Jangan heran, ini semua bisa lahir dari proses pendidikan diatas tadi. Dimana kita akan dimasukkan pada kondisi diamana guru akan dianggap orang yang paling tahu segalanya dan apa yang diajarkan adalah “Maha-benar” yang tak terbantahkan apalagi ketika menggunakan refernsi ‘barat” dan jadilah kita sebagai murid yang taunya mengikuti instruksi dan hanya menampung pengetahuan dari guru.

Apa lagi masalah dalam dunia pendidikan kita? Gambaran permasalahan diatas adalah sebagian kecil dari masalah pendidikan kita hari ini. Masih banyak lagi, namun itu belum terungkap secara nyata di depan mata kita. Permasalahan diatas mungkin bias menyadarkan kita bahwa “Memang Benar, Ada Yang Salah Dengan Sistem Pendidikan Kita” . Dan telah menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk menjadikan itu semua sebagai tantangan untuk memperbaiki system pendidikan kita.

Apa Yang Mesti Segera Dilakukan?
 
“Orang kuat adalah mereka yang berani mengayuh sampannnya di tengah besarnya gelombang, bukan mereka yang duduk di tepi pantai dan menunggu sampai gelombang laut surut”.

Orang yang bijak dalam menjalani hidup, adalah mereka yang senantiasa melihat permasalahan kemudian berfikir dan berani bertindak untuk menyelesaikan masalah (kritis). Bukan justru melihat masalah dan bersikap seolah-olah tak tahu masalah bahakan lari meninggalkan masalah (apatis). Begitu juga dengan permaslahan pendidikan. Kita mestinya berbuat yang terbaik, guna menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi. Bukan justru meninggalkannya begitu saja bahkan tanpa sadar menjadi pelaku kesalahan ataukah justru menjadi korban.


Melihat permasalahan sistem pendidikan hari ini, ada beberapa hal yang bias kita lakukan segera.

Yang pertama, segera memperbaiki tatanan reguulasi system/aturan hukum tentang sistem pendidikan sehingga arah dan tujuan pendidikan menjadi jelas.

Yang kedua, lebih mempertegas kewajiban Negara dalam regulasi pendidikan untuk memberikan biaya/subsidi pendidikan sehingga akan membantu proses pendidikan yang murah dan terjangakau oleh seluruh masyarakat. Sehingga, dunia pendidikan tidak lagi bersifat ekslusif dimana hanya orang-orang berduit yang mampu mengecap pendidikan yang berkualitas.











Yang ketiga, mengarahkan pola pendidikan yang mengarahkan pada penciptaan kultur humanisasi (memanusiakan manusia) bukan justru mengedepankan proses dehumanisasi (menghilangkan prinsip-prinsip kemanusiaan) dalam transformasi ilmu pengetahuan. Proses ini akan dapat tercapai ketika pola pengajaran dalam pendidikan kita lebih menitikberatkan pada pola interaksi timbal balik dimana antara siswa/pelajar dan guru/pengajar sama-sama berada pada posisi subjek/pelaku pembelajaran. Dengan proses seperti ini, maka akan memungkinkan terciptanya kultur dialogis dalam proses belajar mengajar dan akan lebih mengembangkan daya nalar dan sifat kritis para pelajar. Maka dari proses ini, diharapkan akan lahir manusia-manusia yang produktif baik dalam hal pemikiran ataupun dalam berkarya.

Dan tentunya, masih banyak lagi solusi yang bisa kita lakukan. Yang jelasnya, menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk sama-sama berfikir dan bertindak demi sistem pendidikan yang lebih mencerdaskan bangsa.

Ingat, bahwasanya pendidikan adalah pondasi paling utama untuk memajukan negeri ini. Ketika kita ingin melihat Negara kita lebih maju maka bersiaplah untuk menegakkan sistem pendidikan yang lebih baik.
















Daftar pustaka
Arifin, HM, Prof.2000.Filsafat Pendidikan Islam, Cet. VI.Jakarta: PT. Bumi Aksara
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1988.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Karnadi, Hasan.2000.Jurnal Dinamika Islam dan Budaya Jawa.IAIN Wali Songo: Pusat Pengkajian Islam Strategis.
Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek
Al-Syaibany, Omar Muhammad Al-Thoumy, (1979). Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta:
Bulan Bintang.

An-Nahlawi, Abdurrahman, (1992). Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam,
Bandung: CV. Dipenogoro

Jalal, Abdul Fattah, (1988). Azas-azas Pendidikan Islam. Bandung: CV. Dipenogoro
M. Arifin, (1987). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Marimba, Ahmad D, (1989). Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif
Muhammad Naquid Al-Attas, (1994). Konsep Pendidikan. Terj. Haidar Bagit, Bandung:
Mizan

Syalabi, Ahmad, (1954). Tarihk Al-Tarbiyah Al-Islamiyat, Kairo: Al-Kasyaf
Zuhairini, dkk. (2004). Filsafat pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
12

Jalaluddin dan Idi, Abdullah, filsafat pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta: 2002

Munawwaroh, Djunaidatul dan Tanenji, Filsafat Pendidikan (perspektif islam dan umum), UIN Jakarta Press, Jakarta: 2003

Prasetya, Filsafat Pendidikan Untuk IAIN, STAIN,PTAIS, Penerbit Pustaka Setia, Bandung: 1997

Saifullah, Ali, Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya: 1997.

Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar